Cerpen 6

Centang Dua


Centang dua biruku sudah mulai kembali terlihat. Setelah mungkin sekitar 3 tahun aku tidak mengaktifkan tanda bahwa aku sudah membaca sebuah pesan. Di dalam centang dua abu-abu, aku merasa akan lebih aman karena orang yang mengirimiku pesan tidak akan tahu bahwa aku sudah membaca pesannya. Aku tidak perlu merasa bersalah jika sudah membaca pesannya namun belum membalas. Terkadang aku tidak segera membalas pesan karena aku sedang sibuk, kebingungan untuk memberikan jawaban, atau memang sedang malas untuk membalas pesan.

Tapi kemudian ternyata di dalam centang dua abu-abuku aku mulai merasa bahwa aku menjadi pribadi yang menutup diriku. Tidak ingin terlihat oleh orang lain, bersembunyi di dalam keabu-abuanku. Bahkan aku menjadi abai terhadap orang lain karena beberapa kali semenjak aku nyaman dengan diriku yang tersembunyi ini maka aku terlewat untuk membalas pesan-pesan orang. 


Setelah aku baca pesan mereka maka aku menunda untuk membalasnya hingga ternyata sehari, tiga hari bahkan seminggu sudah berlalu tanpa ada balasan dariku. Atau terkadang aku membalas pesan hanya dalam hati atau hanya dalam pikiranku dan lupa untuk menggerakkan jari- jariku merangkai kalimat balasan pesan.

Centang dua biruku tanda bahwa aku mulai membuka diriku. Juga hatiku. Apakah akan ada detak jantung yang berdegup kencang lagi menunggu pesan yang dikirim kepada seseorang berubah dari centang dua abu-abu menjadi centang dua biru? Apakah akan ada rasa tak sabar menanti ketikan jawaban seseorang? Apakah perasaan itu bisa muncul kembali setelah bertahun-tahun dia beku?

Langit senja selalu mengingatkan aku pada lagu "Memulai Kembali" yang dinyanyikan oleh Monita Tahalea. Lirik yang mengajarkanku untuk melepas kisah pilu, berani melangkah pergi, dan memulai kembali untuk membuka diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUDAYA NUSANTARA